Tuesday, October 12, 2010

Fikih Lingkungan

Sejak dulu, mainstream fuqoha belum merumuskan tentang konsep pelestarian alam secara tegas dan rinci, seperti mereka merumuskan mu’amalat dan ubudiyyat.

Kita tahu bahwa Islam meletakkan lima dasar agama (maqashid ak syariah): hifdzul ‘aql, nafs, din, maal, dan nasl. Pertanyaannya, mana perhatian Islam terhadap lingkungan hidup: apakah agama ini tidak punya ’ladang garapan’ pada bidang yang satu ini?

Kita tak punya tameng bahwa Islam sangat perhatian dengan lingkungan hidup. Sebab, kelima asas agama di  atas bertumpu pada satu pondasi, hifdzul bi’ah (menjaga kelesatarian lingkungan hidup). Logikanya, bila lingkungan sudah tercemar, misalnya, kita sulit, atau mungkin tidak, dapat menjaga jiwa (hifdzul nafs);  kapan saja bisa jadi korban amukan gempa atau tanah longsor. Maka dari itu, sekali lagi, tidak berlebihan bila kita katakan bahwa kelima konsep yang sudah ada semuanya bertumpu pada satu konsep: hifdzul bi’ah!

Selain itu, dalam pelbagai ”bahan” hukum Islam kita temukan teks-teks yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Alquran dengan tegas mengatakan hal itu: ketika manusia tidak menjaga lingkungan, kerusakan di bumi menjadi-jadi (baca: QS Asy-Syuro: 30 dan QS Al Rum: 41). Pesan profetik yang sering kita dengar pun berpesan agar menjaga kebersihan (al nadzafah-tu min al-iman), dan dalam maksim Islam klasik terdapat satu kaidah (yang oleh sebagian ulama diyakini sebagai ’induk’ semua kaidah fikih) yang sangat menarik: dar-u al maf?sid muqoddamun ala jalb-i al mash?lih.

Dalam konteks kekinian dan kedisinian Indonesia yang alamnya sedang ’sakit,’ semua bermuara dari langgaran titah Langit di atas. Contohnya, ibu kota Jakarta berlangganan banjir akibat masyarakat tidak memperhatikan lingkungan sekitar (baca: membuang sampah sembarangan) dan menjamurnya villa ’pemilik’ negeri ini di puncak—yang tentu saja mengakibatkan tanah di sana tidak bisa ’meminum’ curahan air hujan karena mulut bumi tersumbat cor pondasi villa-villa liar.

Dalam skala lebih besar lagi, terjadinya pemanasan dunia (global warming) bersumber dari penggundulan hutan secara besar-besaran. Indonesia menyumbangkan kerusakan 59,7 dari 120,35 hektar hutannya.

Sudah saatnya kita menggagas fikih baru, fikih lingkungan, yang sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian Indonesia– dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup (hifdzul bi’ah)–secara lebih terperinci sebagai solusi.[]


EmoticonEmoticon