Friday, November 12, 2010

Tarekat Sanusiyyah di Libya: Esoterisme Islam dan Politik


Historical accounts kehidupan para sufi terangkai bagaikan legenda. Cerita nan kompleks: kisah penuh khayalan, dan kasat pula dengan nilai-nilai spiritual. Sulit untuk menyangkal bahwa kita tidak mungkin bisa memisahkan, dari kisah kehidupan mereka, bagian mana yang merupakan cerita fiksi dan bagian mana yang menjadi realitas historis.

Di zawiyah-zawiyah– bangunan khusus yang dipakai para sufi untuk mengasingkan diri– mereka menyepi: berdzikir dan membaca aurad–wiridan. Hay ibn Yaqdhah, ”anak rusa” yang berhasil menemukan Tuhan setelah lama melakukan ”riset” dan berkali-kali mengalami kegagalan, try and error. Demikian metode Ibn Thufail, seorang filosof neoplatonis, mengambarkan proses kasyaf seorang sufi. Ada Ibrahim ibn Adham sang jutawan (atau mungkin milyader) yang ihklas menukar kemewahan dunia dengan kain wol kasar dan mengembara menjadi ”misionaris” sufi. Adalah Rabiah Al Adawiyyah tokoh sufi wanita yang menolak lamaran Hasan Al Basri lantaran sudah merakasan nikmatnya ”kencan” dengan Tuhan, di pengasingan tentunya.
Begitulah sekelumit kisah– sekali lagi mengulang– yang sulit dipisahkan antara bagian mitos dan realitas historis.
Sejarah lahirnya tasawuf terekam dalam berbagai riwayat. Ia muncul pada abad kedua hijriyyah. Saat itu, manusia terbuai pesona duniawi. Mereka hanya menyibukkan diri pada berbagai hal yang berkaitan dengan urusan dunia (dan lalai masalah ukhrowi!!! [akhirat]), dan menumpuknya. Sebagian orang yang masih bersih hatinya (baca: zuhud) dan tidak mau tertular virus ini pergi mengasingkan diri. Golongan terakhir ini menyibukkan dirinya untuk beribadah dalam pengasingan.
Pada perkembangan berikutnya, praktik spiritual semacam ini terkenal dengan nama tasawuf. Dari aspek epistemologis tasawuf berasal dari kata ”ash shafa,” suci. Pendapat lain mengatakan, berasal dari ”ash shaf al awwal.” Sebab, di hadapan Tuhan mereka adalah orang-orang terdepan. Menurut pendapat lain, tasawuf berasal dari kata ”ash shuffah” karena disamakan dengan sifat dan perilaku ahl shuffah pada zaman nabi Saw.
Kisah-kisah kehidupan para sufi pada awalnya murni untuk menjauhi perhiasan dunia dan pelbagai macam bentuknya dengan mengikuti tarekat– atas bimbingan mursyid. Misalnya, untuk menyebutkan beberapa contoh, Tarekat Al Qodariyyah, As Syadhiliyyah, Naqsabandiyyah, dll. Mereka dianjurkan untuk selalu berdzikir kapan dan di mana pun berada.
Dalam perjalanan waktu, tarekat-tarekat sufi mulai kesusupan (kemasukan) aliran filsafat, akidah, pemikiran lain, termasuk (ideologi) politik, dsb. Salah satunya tarekat di Libya, as sanusiyyah. Dari sinilah menarik untuk mendiskusikan konflik dan permugulam antara Islam esoteris (tasawuf) dan dunia politik (pemerintahan).
***
N.E. Brutsen dalam bukunya, Tarikh Libya Fi Al Ashri Al Hadits: Muntashif Al Qurn Al Sadisa Al Ashara-Mathla’i Al Isyrin, meriwayatkan peristiwa yang terjadi pada abad ke-19. Saat itu, imperium Turki Ottoman (selanjutnya saya tulis: TO) mulai rapuh. Daulah Islam terakhir di dunia itu tidak mampu membendung arus ekspansi Barat.
Penyebab melemahnya TO, menurut para tokoh muslim kala itu, adalah akibat kemunduran ekonomi di dunia Islam, selain kemerosotan pada bidang budaya karena pembesar-pembesar Turki bermental dan moral bejad serta mendewakan gaya hidup hedonis.
Hal ini mengundang keprihatinan sebagian tokoh-tokoh muslim. Antara lain, Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Ajakan mereka merekonstruksi Islam (islah al Islam) mendapat respons positif dari dunia Islam. Maka, dengan cepat gemanya menyebar ke mana-mana. Di antara isi seruan tersebut mengajak umat Islam untuk menata kembali perekonomian, pengetahuan, dan keilmuan serta wawasan dan meninggalkan kejumudan berpikir.
Berada di belahan wilayah TO nun jauh (dari kedua tokoh tersebut) lahir sebuah gerakan tarekat bernama tarekat sanusiyyah yang dibidani oleh Muhammad Ali Al Sanusi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1837. Ali Al Sanusi dilahirkan di Mostaganem, Aljazair, pada tahun 1787. Ali Al Sanusi mendalami tasawuf di Marokes, Maroko. Ia tidak hanya pakar agama, dalam memimpin (leadership) pun jagonya. Saat TO membentuk tim pergerakan renaissance Eropa, Ali Al Sanusi salah satu orang anggotanya. Namun, tidak jelas latar penyebabnya tiba-tiba tarekat yang ia pimpin menjadi oposisi utama TO.
Berbekal kemampuannya memimpin, Ali Al Sanusi menyebarkan terekatnya sampai membentang ke timur masuk ke Mesir. Di selatan pengikutnya tersebar di Sudan dan Chad. Pengikut sanusiyyah juga berada di Aljazair dan Tunisia. Dengan modal berbahasa Inggris di Sudan dan Prancis di Chad, Ali Al Sanusi melanjutkan misinya memasuki wilayah Koufra pada rute Karavan, antara Wadai dan Benghazi, sejak tahun 1894.
Secara riil misi gerakan ini adalah memurnikan kembali ajaran Islam ke doktrin yang murni dan mendirikan negara Islam. Namun, isu-isu yang dilontarkan oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani menghambat penyebaran tarekat sanusiah. Sebab, menurut Nicola Ziyadah, ”Seruan mereka berdua [Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afggani, pen] lebih modern dari pada gerakan tarekat sanusiyyah dan gagasan-gagasannya juga lebih komprehensif, maka lebih mudah diterima oleh masyarakat Arab.” Selain itu, masih menurut Nicola, gagasan mereka sesuai dengan konteks dan memiliki korelasi yang kuat dengan pemikiran masyarakat Arab.
Meskipun demikian, penduduk Tripoli tetap menjadi pengikut setia tarekat sanusiyyah. Apalagi setelah tokoh perjuangan Libya nan melegenda, Omar Al Mukhtar, menjadi pengikut panatik sekte sufi ini. Bergabungya Al Mukhtar menjadi udara segar. Ia seorang pejuang yang mampu membuat pasukan Italia terserang ”migren.” Lion of the Desert dari Libya itu bagi Italia adalah duri dalam daging. Kemampuan diplomasinya yang luar biasa mampu menyatukan suku-suku Libya yang sejak lama terkotak-kotak akibat termakan fitnah Italia yang memecah-belah suku.
The International Magazine on Arab Affair Special Report mencatat peran anggota sanusiyyah nan perkasa itu, ”Bagi tentara Italia yang jauh lebih kuat persenjataan, para pejuang Libya barangkali hanyalah sekelompok orang bersenjata tidak berarti. Namun, dibawah pimpinan Omar Al Mukhtar, para pejuang itu membuat Italia berperang tanpa akhir di padang pasir. Mereka datang bagaikan burung Ababil ketika membuat tentara Abraham porak-poranda saat menyerang Kabah.”
Al Mukhtar tetap lah Al Mukhtar, seonggok daging sama seperti manusia yang lain. Setangguh apapun ia kematian pasti mampir jua. Persenjataan yang tidak seimbang cukup sebagai alasan untuk membuat para pejuang Libya ”kelelahan.” Al Mukhtar tertangkap di padang Koufra. Kemudian, dihukum gantung di hadapan pengikutnya pada 1932.
Akan tetapi, jika prediksi Italia digantungnya pengikut panatik tarekat as sanusiah ini akan memadamkan gerakan anggotanya yang lain, maka prediksi tersebut salah besar. Justru kesyahidannya membakar generasi muda Libya untuk bisa mewujudkan harapan bersama: Libya harus merdeka.
Pada 31 Januari 1942 anak-anak muda Libya yang sedang study di Kairo mendeklarasikan Jam’iyyah Omar Al Mukhtar dengan misi: mencapai kemerdekaan Libya (Izzuddin Abdussalam, Tarikh Libya Al Muashir Al Siasi Wa Al Ijtimai).
Akhirnya, perjuangan tarekat sanusisyah mendirikan negara independen terwujud pasca-Perang Dunia ke II atas bantuan Inggris dan Soviet dan mendapatkan pengakuan dari PBB. Dan salah seorang cucu pendiri tarekat ini, Idris Sanusi, diangkat sebagai raja Libya pertama pada tahun 1952 dengan nama Raja Idris I.
Demikianlah sekilas tentang peran tarekat sufi (sanusiyyah) bagi kebangkitan nasional (Libya). Mulai saat menjadi oposisi dinasti Utsmaniyyah sampai menyingkirkan penjajah Italia, dan menjadi orang nomor satu di Libya. Walaupun umur pemerintahannya seumur jagung saja. Setelah salah seorang perwira muda, Moammar Khadafy, yang baru pulang dari Inggris melakukan revolusi tidak berdarah (1969), dinasti (tarekat) sanusiyyah berakhir.
A. Muntaha Afandie
Artikel ini dimuat di majalah El Waha edisi Juni-Agustus 2008.


EmoticonEmoticon