Tuesday, December 21, 2010

Annisa dan Belenggu Agama

Bagi Annisa agama dan Tuhan adalah belenggu. Ia merasa makin terbelenggu setelah jadi ”tumbal” keluarga. Annisa dipaksa menikah dengan Syamsuddin; pria haus syahwat yang selalu mengobral nama Tuhan dan mengintimidasinya dengan siksa neraka demi kepuasan libido. Gus disessif!
Annisa semikin yakin bahwa Tuhan ”sosok” tebang pilih dalam kasih-Nya: hanya membela jenis kelamin Adam, sama sekali tidak berpihak pada Hawa. Tuhan tidak adil! Namun, belenggu itu rapuh: tidak mampu menahan gempuran ”iman” baru. Lalu, setelah merasa yakin dan nyaman dengan iman barunya, ia lempar dogma warisan leluruhnya itu—yang dimetaforakan dengan selembar sorban. Demikian yang ditontonkan jelang ending film ”Perempuan Berkalung Sorban.”
Metafora yang hampir sempurna untuk menjewer kekakuan beragama. Sindiran yang baik, disaat baik, bagi yang tidak paham agama dengan baik. Kenyataannya tidak ada yang benar-benar paham agama dengan baik, memang. Hanya satu orang yang paling baik memahami Islam; Muhammad saw, pembawa risalah Langit.
Film yang diangkat dari novel Abidah EL Khalieqy ini mengisahkan kehidupan komunitas bersarung di sebuah pesantren tradisional di Jawa Timur-- lengkap dengan semua aksesorisnya. Dari awal sampai akhir, menyajikan scene wanita yang dibelenggu agama. Annisa jadi representasi wanita teraniaya. Dan belenggu agama diwakili sosok ayah yang ”taat” (pada Tuhan) dan suami yang ”alim” (terhadap agama). Ayahnya seorang pengasuh pondok pesantren yang patuh pada isi kitab suci, suaminya seorang gus—putra teman sang ayah sekaligus donator utama pesantren Al Huda, milik ayah Annisa. Sampai di sini kekritisan Annisa bagaikan sepotong kayu kering yang terhempas gelombang: harapannya menjadi muslimah yang ”utuh” seketika runtuh, apalagi setelah Syamsuddin ”selingkuh.”
PBS adalah kisah gadis kecil yang kritis, ingin tahu hal-hal baru, dan memiliki ”kelainan:” gadis kritis yang berani menentang ”kodrat” yang ditanamkan orang tuanya. Kekritisannya membuat dia jadi tertawaan di kelas, juga sasaran kekerasan sang ayah. Lalu— setelah menjanda dan mengembara ke Yogyakarta— ia menemukan realitas baru: kebebasan, perempuan tidak seharusnya berada di bawah ketiak suami karena Tuhan menciptakan surga ”dibawah” telapak kaki ibu-- perempuan. Bukan laki-laki.
Mungkin itu sebabnya yang membuat Pramoediya Ananta Toer meninggalkan ”Islam Kejawen” warisan leluhurnya— seperti terekam dalam Bumi Manusia. Mungkin sebab yang sama, ketika Gus Muh menulis ”Tuhan: Izinkan Aku Jadi Pelacur” menyimpulkan: Islam yang ”letter lek” justru mengebiri ruh agama itu sendiri, berujung pada kekecewaan.
Dalam bukunya itu, Gus Muh mengisahkan perjalanan Nida Kirani. Mahahiswi yang meninggalkan dunia esoteris yang memberinya ketentraman batin. Tapi Nida minggat dari harakah Islam yang menyulut idealismenya: mendirikan Daulah Islamiyyah. Ia lari dari harakah itu karena merasa hidup ditengah ”srigala” berbaju agama dan dijadikan sapi perah atas nama perjuangan suci.
Apabila ”Perempuan Berkalung Sorban” dan ”Tuhan: Izinkan Aku Jadi Pelacur” mengambil setting ”Islam Santri,” Pramoedya menjadikan ”Islam Kejawen” sebagai objek kekecewaannya. Intinya sama: jika terlalu dogmatis, alih-alih bisa menghidupkan romantisme beragama, malah jauh bara dari api.
Agaknya yang paling tepat dalam menjalankan ajaran agama ialah dengan ”mengawinkan” dengan budaya lokal; akulturasi budaya. Setelah ”mendaur ulang” terlebih dahulu, tentunya.
Dalam pada itu, Nahdlatul Ulama, satu-satunya Ormas yang mengakulturasi agama dengan budaya perpegangan pada jargon: al muhafadhatu ’ala al qadim al shalih, wa al akhdu bi al jadid al ashlah. Bila memang perlu meracik menu baru yang lebih bisa dinikmati, tapi tetap menyuguhkan resep lama yang masih bisa disantap.
Jadi, agar Islam tidak mati suri harus mengakulturasikannya dengan budaya dan adat lokal, juga membuang (baca: menyesuaikan dengan tuntutan zaman) yang sudah usang dan mengganti dengan ”kreasi” baru yang lebih layak. Hal itu diperlukan bila Ingin Islam tidak kehilangan ruhnya yang: rahmatan lil ’alalmin.
Dengan demikian, Islam tidak akan pernah jadi belenggu apalagi ditinggalkan pemeluknya.
Namun, dalam hati saya masih menyimpan kejanggalan: kenapa ketika mengambil setting ”Islam dogmatis” sang penulis novel memilih Jombang dan Yogyakarta sebagai setting ”Islam progresif”? Jombang adalah simbol Nahdlatul Ulama, dan Yogyakarta simbol Muhammadiyah. Se sempit itukah pemahaman kiai-kiai NU terhadap agama? Sebagai anak yang lahir dari rahim NU—keluarga, lingkungan, dan belajar pada kiai-kiai NU—saya tak berani menjawab: Ya!

A. Muntaha Afandie
Kritikus film dan peminat sastra. Koordinator LTN PCI NU Libya dan Pemimpin Umum Jurnal Pemikiran dan Peradaban MEDIAKA.

Dipresentasikan dalam ”Bedah Film Perempuan Berkalung Sorban,” 14 Mei 2009 di gedung perkuliahan International Islamic Call College, Libya.

2 comments:

  1. Penulis novel dan pembuat film sama2 tidak fair dalam menilai dunia pesantren :D

    ReplyDelete
  2. karena mereka gak pernah mondok, makanya gak tahu seluk beluk pesantren. kalaupun penulisnya pernah mondok, mungkin di pondoknya dia mbeling :P

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon