Thursday, November 24, 2011

Simbiosis Agama dan Budaya: Sebagai Strategi Translasi Dua-Arah

simbiosis mutualisme
Kesuskesan penyebaran agama islam di indonesia tidak lepas dari simbiosis agama dan budaya yang merupakan strategi translasi dua arah.
Tuhan memberikan mandat pada Muḥammad untuk merestorasi akhlak yang bejat[1]. Dan, menabur paham tauḥīd di saat masyarakat Arab khususnya, umumnya seluruh manusia saat itu, menyekutukan Tuhan. Ini adalah rahmat bagi semesta raya (QS al-‘Anbiyā: 107). Dalam perjalanan dakwahnya, dengan bimbingan Jibril, nabi tidak membabi buta mengebiri budaya lokal yang sudah mapan; ia bersikap torelan terhadap kearifan lokal. Dengan sikap lentur terhadap budaya, Islam memungkinkan pemeluknya melihat segala sesuatu secara seimbang: dari dua-arah secara harmonis, dan dari berbagai tepian. Sebab, Islam mencakup aspek aqidah (teologi), syariat dan tasawuf (akhlāq, etika). Mengambil satu aspek saja dan mengabaikan aspek lainnya, jelas akan merusak tatanan kosmis yang seimbang dan harmonis ini.

Sikap Islam yang mengakomodasi kearifan budaya lokal, terekam dalam pesan profetik yang dideskripsikan oleh Abdullāh Ibn Mas’ūd,

ولقد صدق عبد الله بن مسعود رضي الله عنه في وصفه حيث قال: (إن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه وابتعثه برسالته، ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد صلى الله عليه وسلم فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد؛ فجعلهم وزراء نبيه، يقاتلون على دينه، فما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن، وما رأوه سيئاً فهو عند الله سيء).



Sangat benar uraian Ibn Mas‘ūd bahwa, ”Setelah Allah melihat hati hamba-Nya, maka Ia melihat hati Muḥammad adalah hati terbaik dari semua hamba-Nya. Lalu, Ia memilihnya sebagai utusan yang menyebarkan risalah Tuhan (iṣthafāhu linafsihi wabta‘athahu bi risālatihi). Kemuudian, Ia melihat pada hati hamba-hamba-Nya yang lain, setelah melihat hati Muḥammad, Ia menemukan hati terbaik ada pada sahabt-sahat rasul. Maka, Ia jadikan mereka sebagai pendamping (wuzarā) nabi yang berjihad untuk memberla agama-Nya (yuqātilūna ‘alā dinihī). Maka, setiap hal yang dipandang b­aik oleh setiap muslim, baik pula menurut Allah dan setiap yang buruk menurut mereka, buruk pula menurut-Nya.[2]   

Kita tidak dapat memungkiri bahwa Islam dating dengan semangat akomodatif, bukan semangat memberangus kearifan lokal. Dengan kata lain, Islam mengapresiasi kearifan budaya lokal selama ia tidak menciderai humanisme dan/ atau ketauhidan itu sendiri sebagaimana tesis nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Ma‘ūd di atas. Tesis ini pula yang dijadikan tolok ukur maksim Islam klasik (qawā‘id al-fiqhiyyah) dalam merumuskan tradisi yang bisa dimasukkan dalam hukum fikih Islam (syarī‘at).[3]  Dalam pada itu, bila kita me-rever pada sejarah formulasi syarī’at (al-tārikh al-tasyrī’), maka terbentang fakta-fakta bahwa tidak sedikit (hukum) syarī’at yang merupakan ”kelanjutan” dari budaya lokal yang sudah mengakar sebelum Islam. Misalnya, untuk menyebutkan beberapa contoh, jilbab yang merupakan simbol masyarakat Arab pra-Islam. Kemudian, ia mengadapatkan ”legalitas” sebagai ”simbol” agama Islam setelah turunnya QS al-Aḥzāb: 53,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا



”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya),[4] tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu nabi lalu nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”

Pengaruh-mempengaruhi (al-ta’thīr wa al-ta’aththur) yang merupakan konsekwensi dari interaksi tidak hanya terjadi dalam perilaku/ karakter dan agama, terjadi juga dalam, antara lain, kesusastraan dan bahasa. Misalnya, Bahasa Indonesia merupakan Bahasa paling ”gado-gado” di dunia karena ia terpengaruh dari beberapa bahasa daerah, sansekerta, dan asing, misalnya Bahasa Spanyol dan Arab.

Dalam masalah pengaruh di bidang bahasa dan kesusastraan, Bahasa dan Sastra Arab juga tidak bisa lepas dari pengaruh bahasa asing. Dalam konteks ini, sastra Persia memiliki porsi sangat dominan.[5] Bahkan tidak sedikit kosa kata dalam Alquran dan diksi (Arab; kalimah) dalam hadith nabi yang merupakan pembakuan dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab (ta’rib). Dan, sekali lagi, Bahasa Persia (sekarang Iran) memiliki kontribusi yang besar.[6]

Namun, dalam persilangan budaya (cross-roads of cultures) Islam tidak hanya berperan sebagai objek (baca: menerima pengaruh dari lingkungannya) tapi juga sebagai subyek (Islam memberikan pengaruh pada lingkungan di mana ia ada): dalam satu sisi Islam, melalui peran aktif para cendikiawan/ ulama berada pada posisi menerjemahkan budaya lokal ke dalam konteks keislaman. Dan pada posisi lain, para cendikiawan menerejemahkan semangat Islam ke dalam budaya di mana Islam hadir. Dalam konteks ini, kita bisa melihat contoh dakwah Wali Songo. Lebih spesifik lagi, Kanjeng Sunan Kalijogo yang mampu memposisikan diri sebagai penerjemah ganda (translasi dua-arah): Sunan Kali Jaga tampil sebagai sosok ki dalang wayang sekaligus sebagai seorang dā‘i. Sebagai seorang dalang ia memerankan tokoh-tokoh pewayangan dalam setiap pementasannya, namun sebagai seorang dā‘i tidak melupakan tugasnya: menyebarkan spirit Islam, maka ia mementaskan wayang tapi setelah melakukan ”islamisasi” terlebih dahulu terhadap plot ceritanya. Misalnya, mengganti cerita pewayangan dengan kalimasada.

Dalam cerita kalamisada, Sunan Kali Jaga memasukan nafas Islam dalam dunia wayang. Sehingga wayang yang awalnya berupa hiburan an sich di tangan ”wali jawa”  itu berubah jadi media dakwah yang ampuh dan terbukti mampu mengislamkan penghuni Jawa Dwipa dengan legawa, tanpa paksaan.
Dimuat di Majalah Misykat, Edisi 70/ Desember 2011






[1] Tugas ini terekam dalam hadith yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah ra, ”Bu‘ithtu li utammima makārim al-akhlāq (Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak).” Lihat: Abū Isḥāq Aḥmad Ibn Ibrāhīm al-Tha‘labi al-Naisābūri. 2002. Al-Kasyf wa al-Bayān.  Bairūt: Dār Iḥyā al-Turāth al-‘Arabi. Jilid X Hal. 10. Dalam CD Maktabah Syāmilah. Versi 3.15.




[2] Syarh Al-‘Aqīdah al-Thaḥāwiyyah Li Ibni al-Jibrīn. Jilid III. hal. 472. Dalam CD al-Maktabah al-Syāmilah V. 3.15.




[3] Lihat: al-Sayyid Abū Bakar  al-Ahdālī al-Yamani al-Syāfi’ī. Al-Farā‘id al-Bahiyyah. Kediri: Madrasah Hidayāh al-Mubtadi’īn Ponpes Lirboyo. hal. 35




[4] Maksudnya, pada masa rasulullah Saw pernah terjadi orang-orang yang menunggu-nunggu waktu makan rasulullah Saw lalu turun ayat ini melarang masuk rumah Rasulullah untuk makan sambil menunggu-nunggu waktu makannya rasulullah.




[5] Aḥmad Amin. 2010. Fajr al-Islām. Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah. Hal. 109-121.




[6] Aḥmad Amin. 2009. Dluḥā al-Islām. Cairo: Syirkah Nawābigh al-Fikr. Hal.  265-268.


1 comment:

  1. sudah selayaknya sebagai umat muslim, kita bertoleransi dan menghargai umat agama lain.
    salam :)

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon