Sunday, June 2, 2013

Para Pencuri Rumah Tuhan

Didorong ”syu’udzon” terhadap golongan lain, dewasa ini, takfir (mengkafirkan orang lain) sudah jadi “tradisi.” Buntutnya penjarahan masjid NU oleh golongan yang merasa paling Islam. Karena, bagi pencuri rumah Tuhan, pengelola masjid sudah berbuat kebatilan berselubung kebenaran. Masjid milik Tuhan maka harus dikembalikan kepada-Nya (Dalam: Tradisi Orang-orang NU (pengantar), hal. xi-xii. Edisi-I. Yogyakarta: Pustaka Pesantren-Lkis Pelangi Aksara.)
Mereka ”menyita” rumah-Nya atas nama agama (dan Tuhan, tentu). Kapan dan dimanapun--Islam satu; ”Islamnya Arab.” Tidak ada akulturasi budaya-agama, tidak pula kompromi sekte-sekte.

Rupanya mereka lupa, Islam ialah agama tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), i’tidal (jalan tengah), dan tasamuh (toleran). Dengan tegas Masdar--mengutip Faishal At Tafriqah baina Al Islam wa Az Zanaadiq-nya Al Ghazali--menulis, ”Siapa dan apa pun mazhab serta keyakinannya, selagi masih meyakini kalimat syahadat, ’La ilaha illa Allah Muhammad rasulullah,’ ia adalah saudara seiman, jangan dikafirkan dan dimusuhi.”
Menurut Syaikh Nawawi Banten dalam bukunya, Sulam Al Taufiq, mengatakan atau memanggil orang lain dengan ”Hai kafir,” merupakan tindakan gegabah yang bahaya. Sebab, menurut maestro kitab kuning tanah Jawa itu, kalau tidak terbukti apa yang ia ucapkan, maka akan kembali pada dirinya. Sa’id Al Hasan dan Muhyiddin mengamini pendapat ini. Sebagaimana Syekh Nawawi, bagi mereka takfir tanpa didukung bukti-bukti konkret adalah perkara yang berbahaya dalam Islam. Sebab, memposisikan orang mukmin pada posisi kafir (Al Aqidah Al Islamiyyah: Arkamuha, Haqaiquha, Mafsadatuha. Baerut: Darl Ibn Katsir. Hal. 586—587).
Ibn Hajar memperjelas. Menurut pengarang kitab Fath al Muin itu, manakala orang yang di-takfir terbukti kafir menurut takaran syara’, maka orang yang men-takfir benar; berarti dia tidak kafir.
Lebih dari seribu tahun silam nabi agung sudah mengingatkan bahwa mengklaim orang lain kafir—sebagaimana dipaparkan ulama di atas—merupakan perbutan ”berjibaku.” Alih-alih orang yang dikafirkan keluar dari rel Tuhan, malah kita sendiri yang tergelincir ke lubang sangat nista; kafir. Karena mengklaim orang mukmin sebagai kafir. ”Kalau di antara kalian berkata pada temannya, ’Hai orang kafir,’ maka (ucapan itu) kembali pada salah satu dari keduanya. Jika orang yang ia panggil benar-benar kafir (maka pemangil tidak kafir), tetapi jika ucapannya tidak terbukti (yang ia panggil tidak kafir), maka kalimat yang pemanggil ucapkan kembali pada dirinya.(Pemanggil yang kafir, bukan yang dipanggil.)”
***
Gus Dur pernah menceritakan ”polemik” antara kekeknya, K.H. Hasyim Asy’ari (rais akbar Nahdlatul Ulama), dengan Kiai Faqih (wakil rais Akbar NU) dari Maskumambang, Gresik. Saat itu, Mbah Hasyim menulis fatwa haram menggunakan kentongan sebagai media memanggil jamaah shalat. Alasannya, tidak ada dalil naqli; hadits nabi yang menjelaskan tentang pemakaian kentong sebagai alat memanggil jamaah.
Fatwa yang diterbitkan di jurnal ilmiah bulanan Nahdlatul Ulama (1928) itu pada edisi berikutnya dibantah oleh Kiai Faqih, wakil beliau sendiri di Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Alasan Kiai Faqih bahwa kentongan bisa dipakai sebagai alat untuk memanggil jamaah shalat adalah dalil qiyas. Kentongan dianalogikan dengan bedug yang pemakaiannya menjadatkan justifikasi nabi Saw.
Setelah membaca uraian ilimiah wakilnya, Kiai Hasyim mengumpulkan kiai dan santri seniornya. Setalah merekan kumpul beliau memerintahkan agar uraian Kiai Faqih dibacakan. Setelah selesai pembacaan artikel wakilnya itu, Mbah Hasyim ”dawuh” bahwa masyarakat boleh dan bisa menggunakan salah satu dari keduanya (bedug atau kentongan) sebagai alat pemanggil jamaah shalat. Sikap yang bijak, dan kedewasaan dalam bersikap; beliau menyakini ”kebenaran penafsirannya” dengan tetap menghargai penafsiran orang lain.
Demikian juga dengan Kiai Faqih. Ketika beliau mengundang Mbah Hasyim berceramah di Pesantren Maskumambang dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, Kiai Faqih mengirimkan para utusannya untuk menemui semua takmir masjid dan pengasuh mushallah se Kabupaten Gresik agar menurunkan kentongan dari tempatnya selama Kiai Hasyim berada di kawasan Gresik (Dalam Islamku, Islam Anda,Islalm Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta- The Wahid Institute. Hal. 235--236)
Mereka berdua merupakan representasi dari ulama berjiwa besar yang tidak jumawa; tidak mengklaim penafsiran masing-masing sebagai ”kebenaran mutlak” dan menghakimi pemikiran orang lain sebagi kesalahan yang tak termaafkan, apalagi sampai membidahkan dan men-takfir. Tatak krama dalam berintereksi dengan interpretasi yang beragam benar-benar mereka amalkan, bukan hanya oral sebagaimana yang kebanyakan ulama dewasa ini.
Tapi dimana Mbah Hasyim-Mbah Faqih dalam konteks kekinian dan kedisinian Indonesia? Yang saya temukan justru orang-orang yang menganggap dirinya paling benar, yang lain salah--- dan patut disalahkan sehingga terjadilah pencurian rumah-rumah Tuhan karena, mengulang kesaksian Masdar, bagi pencuri rumah Tuhan, pengelola masjid sudah berbuat kebatilan berselubung kebenaran. (Lihat juga: Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (versi PDF).[]
dimuat di MEDIAKA edisi Agustus 2009


EmoticonEmoticon