Sunday, September 21, 2014

Ngalap Berkah di Zawiyah Tarekat Shadziliyyah

Mursyid Tarekat SyadiliyahSirrul ashya> khila>f al-adzka>r.

Mutiara sufistik di atas diucapkan oleh abdi dalem salah seorang murshid tarekat al-Sha>diliyyah saat saya mencari ija>zah Dala>il Khaira>t. Terus terang kami, saya dan dua orang teman, mengernyitkan dahi, tepat di depan pintu ruangan yang menjadi kuburan murid-murid Imam al-Sha>dzili>, Kamis (31/07), di salah satu sudut za>wiyah di puncak bukit batu nisan.

”Maksudnya apa, Shaikh?” tanya temanku mewakili kedangkalan nalar kami yang tak mampu menyelami maksudnya.

”Kalian ingin tahu, bertanya seperti itu, saja sudah termasuk belajar,” jawabnya singkat, dan tak kami duga ia akan menjawab justru tidak dengan jawaban yang ’kami butuhkan.’ Pembicaraan kami berakhir sedang kami masih belum memecahkan teka-teki itu.

Percakapan di atas terjadi di salah sebuah bangunan za>wiyah al-Sha>dziliyyah yang terletak di puncak bukit Zalla>j.

Bukit Zalla>j sedikit memanjang, tidak terlalu tinggi, bisa dicapai dengan berjalan kaki tanpa nafas tersengal. Batu nisan menancap dari puncak sampai ke kaki bukit. Di bawahnya, sebelah selatan, terdapat danau yang luas dibelah oleh rel kereta trem dan jalur transportasi roda empat. Bila melewati jalan di tengah “laut” ini, saya sering bereloroh kepada teman, ”Kita seperti Musa dikejar Firaun si raja durja. Berlari kencang tanpa menoleh ke belakang.”

Terletak di puncak bukit Zalla>j, membuat pengunjung za>wiyah tak merasakan sengatan musim panas yang membara. Justru sebaliknya pengunjung merasakan kesejukan bukan hanya secara ruhani tetapi juga secara dha>hiri. Hembusan angin yang sampai kepuncak membawa kesejukan air danau di bawah sana.

”Bukit batu nisan” ini berada di Distrik Bab Aloua, Tunis. Ia menjadi ”lahan menanam” batu tanda kematian. Semua klan dan kasta berbaur jadi satu di sini, mulai penguasa sampai rakyat biasa, dari ulama sampai jenazah yang tak bernama. Bahkan kuburan sarjana tafsir dan pakar maqa>s}id al-shari>‘ah, al-T}a>hir ibn ‘Ahu>r, berada di sini. Tidak ada tanda kemewahan layaknya ulama dan/ atau wali besar di tanah Jawa. Hanya batu nisan yang lebih tinggi yang membedakan kuburan tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi kajian maqa>s}id ini dengan kuburan lainnya.

[caption id="" align="alignright" width="266"]Tokoh-tokoh Tarekat Shadziliyyah Tunisia Tokoh-tokoh Tarekat Shadziliyyah Tunisia[/caption]

Di bukit ini pula terdapat pesarean Shi>di> Bashi>r yang – dari keterangan juru kuncen— salah satu ruangannya pernah dijadikan tempat khalwah sult}a>n auliya> al-Shaikh ’Abdul Qa>dir al-Ji>la>ni kala singgah di negeri yang saat ini udaranya setiap saat kami serap.

Namun, ikon tertinggi bukit ini, tanpa bermaksud menafikan ulama besar sekaliber Ibn ’Ashu>r dan Ibnu ’Arofah atau tempat khalwah sult}a>n al-auliya> itu, di mata saya adalah dua tempat istimewa peninggalan qut}b al-ghaith al-Shaikh Abī al-H}asan al-Shādzilī, pendiri tarekat Shādiliyyah dan pengarang tiga hizib yang jadi senjata andalan kaum nahdliyyi>n: Nashar, Nawawi dan Bahr, yaitu zawiyah yang saya singgung di atas dan al-magha>rah, zawiyah yang di salah satu ruangannya terdapat goa kecil, tempat al-Sha>dzili bermunajat pada Sang Maha Suci.

Sampai sekarang kedua zawiyah itu masih berfungsi sebagai tempat zikir tarekat ini: zawiyah puncak setiap kamis malam, sedang zawiyah bawah setiap jumat malam dan sabtu pagi.

***

Shaikh al-Sha>dzili pertama kali menginjakkan kaki di bumi Tunisia pada tahun 602 H. dalam usia belasan tahun, berguru pada ulama Tunisia di masanya. Dahaga intelektualnya menggerakkan al-Sha>dzili meninggalkan Tunisia menuju Timur, saat usianya mencapai 20-an tahun. Ia memperdalam shari>’ah dan h}aqi>qah. Setelah itu, kembali lagi ke Tunisia untuk menyebarkan tarekatnya, meski hanya sebentar karena kembali ke Mesir sampai ruh meninggalkan jasad.

Imam Sha>dzili termasuk waliyulla>h yang terkenal dengan hizib-hizib-nya. Dan, sampai sekarang pun, setiap Sabtu pagi, di petilasan beliau ini berkumpul pengikut tarekat al-Sha>dzilliyah untuk membaca hizib-hizib beliau. Namun, Hizib bahr menempati posisi tertinggi di hati m ereka. Mungkin karena ia hizib terakhir sang imam yang konon naskahnya didiktekan  langsung oleh rasulullah saat ia terjebat di laut merah.

Saat itu, seperti dikisahkan oleh H}a>ji> Khali>fah dalam Kashf al-D}unu>n, jilid I, al-Sha>dzili sedang berlayar di laut merah (bah}r al-qulzum) tiba-tiba tidak ada angin selama beberapa hari. Otomstis perahu tak bisa melanjutkan perjalanan. Ia terjebat di tengah lautan.

Lalu, dia ”ditemui” rasulullah dan mendiktekan doa kepadanya. Setelah ia membaca doa tersebut, angin bertiup kembali dan perahunya menepi. Itulah  muasal dinamakan H}izb al-Bah}r.

Hal serupa juga terjadi pada Ibn Bat}u>t}ah. Dalam satu pelayarannya, tiba-tiba kapalnya dipukul badai. Awak kapal panik. Nyawa mereka sudah dibibir samudera. Ia teringat doa sufi besar itu, lalu membacanya. Sekonyong-konyong angin bersahabat, dan membimbing kapalnya ke tepi pantai. Selamat.

Meskipun Rih}lat Ibn Bat}u>t}ah tidak menyebut secara jelas itu H}izb Bahr, tapi karena sang pelaut itu pernah berziarah ke peristirahatan terakhir al-Sha>dzili di Mesir, bahkan dalam salah satu judulnya, Ibn Batutah secara khusus menyebut keistimewaan ini-- dan jaminan dari al-Shadzili sendiri bahwa orang yang membacanya tidak akan mati tenggelam atau terbakar-- maka kepala saya menerka, saat itu Ibn Batutah membaca dari laut merah.

Sungguh ampuh senjata yang diwarisi warga NU ini. Beruntung jadi ahli bidah h}asanah.

***

[caption id="" align="alignleft" width="320"]Tarekat Syadziliyyah ber-Tahlil di kuburan murid-murid utama sheikh Abi al-Hasan al-Shadili, terletak di salah satu ruangan Zawiyah d Bukit al-Jallaz[/caption]

Anda jangan membayangkan goa tersebut layaknya goa-goa di tanah Jawa, misal goa Safarwadi di Pamijahan, tempat waliyullah Shaikh ‘Abd al-Muh}yi mengasingkan diri. Beda. Goa al-Sha>dzili> lebih tepatnya sebuah kamar bawah tanah: berupa ruangan kecil yang hanya cukup untuk duduk.

Untuk mencapai goa ini, dari pintu utama saya masuk kedalam ruangan yang kita-kira berukuran 2X3 meter (ruangan ini dijadikan tempat untuk antri pengunjung bisa masuk ke dalam goa), dari situ masuk ke ruang kedua yang lebih kecil di situ ada tempat duduk sekitar satu meter panjangnya, di sini sudah mulai ada orang yang tabarrukan, ruang berikutnya adalah tempat untuk shalat, setelaah ruang ini, baru saya sampai ke dalam goa. Seperti mulut lobang ular. Untuk masuk ke dalam goa, saya harus merunduk dan menginjak dua anak tangga.

Ketika sampai di dalam goa, pikiran saya tiba-tiba ”lari jauh” melintasi ruang dan waktu. Wuuuss… (membayangkan) seperti inikah keadaan nabi dan Abu Bakar saat ”meringkuk” di dalam goa hira. Tapi hati begitu teduh. Betapa tepat sekali Imam Sha>dzili mendesain ruang untuk “memenjarakan” diri di dalam ruang yang hanya cukup menampung dia dan Tuhannya. Sayang saya tak sempat shalat di tempat Imam Sha>dzili di ruan sebelum goa itu karena sedang ada orang yang membaca Alquran.

Perjalanan dari ruang utama ke ruang kedua, lalu ketiga, dan lanjut ke goa, seperti anak tangga: masuk dari ruang satu ke ruang yang lain semakin menurut, dan menyempit. Desain ruangan yang seperti ini karena Zawiyah ini berada di pinggir bukit yang terus menurun mengikuti ”lekukannya.”

Keluar dari mulut goa, jalan ke kanan, menaiki anak tangga, kita akan ketemu dengan jalan. Dari sini, belok kiri ke kuburan Ibn ’Arafah, sedang bila ke kanan, maka ke zawiyah. Lokasi goa dan zawiyah ini, mirip seperti kulil shaolin: di bukit, dan memiliki halaman yang luas. Bedanya halaman kuil shaolin dipakai untuk lahitan kungfu, sedang halaman zahiyah dipakai untuk zikir jamaah setiap Jumat malam.

Sedang bangunan kedua, sekitar 50 meter, merupakan zawiyyah dan sekalligus kuburan murid-murid sang Imam (seperti terlihat dalam foto), bangunan ini lebih kecil. Bila di zawiyyah pertama dipakai dzikir setiap Jumat malam dan Sabtu pagi, za>hiyah kedua ini hanya dipakai wirid pada Kamis malam.

Pengikut Sha>diliyyah dari beberapa kota di Tunisia hadir di sini. Dari berbagai kota yang lumayan jauh untuk ikut dzikir di tempat peninggalan sang pendiri tarekat.

So, saya melihat sekularisasi Bourguiba hanya mampu meredupkan, tak dapat memadamkan nur ilahi di negeri ini, meskipun ia sudah sedemikian rupa mengebiri pelbagai aktifitas dan pengamalan keagamaan di Tunisia (misalnya, selama rezim Sekuler berkuasa, wanita dilarang mengenakan jilbab dan pria dilarang berjenggot). Buktinya, acara kaum sufi, sebagai satu representasi, masih riuh di puncak bukit batu nisan ini, belum di tempat dan kegiatan keagamaan yang lain.

Namun, masyarakat Tunisia ibarat orang dewasa yang mengalamai kecelakaan patah tulang: ia baru mulai belajar berjalan kembali, tertatih-tatih, setelah sekian lama dipasung penguasa anti agama.

Dalam pada itu, kembali be kutipan di atas, sampai sekarang saya belum mafhum makasudnya, apalagi si penutur "menutup" diri.

Semoga dalam salah satu dzikir mingguan, Tuhan mempertemukan dengannya kembali, dalam kesempatan berbincang-bincang yang lebih luang. Agar lebih dalam menggali mutiara hikmah darinya, tentu.

[caption id="" align="alignleft" width="620"]Ibnu Arafah Tahlilan di Kuburan Ibn Arafah[/caption]

Mengikuti dzikir bersama mereka, saya merasakan, mampu mengisi kekosongan ruhani karena saya tak mendapatkan amunisi semacam ini di kampus yang serba keperancisan mulai dari materi kuliah, buku bacaan, metode pengajaran, dan sampai ajakan berpikir kritis ala orientalis. Beda jauh dengan yang saya rasakan dengan saat kuliah di Libya atau Surabaya.

Untuk itu, setelah melalui renungan panjang, saya menghadap Shaikh H}asan memohon untuk ”dilatik” sebagai pengamal aurad al-Sha>dziliyyah. Saya senang mendapakan izin untuk bergabung bersama mereka saban Sabtu, mengamalkan kitab Nibra>s al-‘Atqiya> wa Dali>l al-‘Anqiya>- sebuah buku kecil kumpulan hizib dan aurad al-Sha>dzili.

Inilah puncak batu nisan, jalan menuju hakikat. Inilah goa al-Sha>dzili>, lorong kecil, pintu bertemu Tuhan.[]


EmoticonEmoticon