Wednesday, October 1, 2014

Religions for Peace Internaional Youth Committee Meeting (1)

Religions for PeaceSangat tepat, pernyataan sang presiden. Maka, kita perlu memahami agama sampai ke substansinya, tak hanya membaca kulitnya.

Hari ini, Selasa (30/9), saya mendapatkan kesempatan istimewa, menghadiri Religions for Pace Internaional Youth Committee Meeting yang diselenggarakan oleh Art & Démocratie bekerja sama dengan Religions for Peace di Dar Dhiyafa Charthage, tidak terlalu jauh dari lokasi istana presiden Tunisia.

Pihak penyelenggara tak hanya mengundang tokoh-tokoh lintas agama dari dalam negeri, tetapi dari berbagai benua yang sudah )terbukti) memiliki kontribusi bagi perdamaian antar umat beragama. Sebut saja Kyoichi Sugino, dari Jepang, Sekjen Religions for Peace, yang sudah melanglang buana membawa satu  misi: menciptakan perdamaian umat beragama.

Acara dimulai pukul 09:30 dan dibuka langsung oleh presiden Tunisia, Moncef Marzouki. Orasi orang nomor wahid di negeri yang mulai bangkit pasca-Revolusi, 2011, lalu ini. Pria yang sebelumnya berkecimpung di dunia pemikiran dan memperjuangkan HAM, sebelum ia aktif sebagai politisi praktis, dan terpilih sebagai presiden Tunisia keempat, menyatakan perdamaian agama di sudah terjalan lama di Tunisia, bahkan kerukunan dengan Yahudi.

[caption id="attachment_934" align="alignright" width="225"]Religions for Peace Meeteing Berpose bersama Grand Rabin Tunisia, Baim Bittan.[/caption]

“Agama-agama jika dipahami sampai substansinya, maka ia akan mempererat (al-din hina tufhamu mindakhiliha taqtarib ba’duna bi ba’d),” kata sang presiden yang meraih doctor di bidang kedokteran itu di depan peserta muktamar, yang salah satu hadirinnya adalah Grand Raabin Tunisia, Baim Bittan.

Senada dengan Moncef. Mufti Tunisia pun, menekankan pentingnya menciptakan perdamaian antar-umat beragama. menurutnya, kata damai dengan perang di dalam Alquran tak berimbang jumlahnya: perang hanya disebutkan sebanyak 6 kali sedangkan berdamai 140 penyebutan. Itu tandanya Islam suka berdamai, bukan sebaliknya.

Sampai di titik ini, tiba-tiba kepala saya terseret jauh, entah kemana: kerusuhan merajalela, di mana-mana, sepanjang masa, justru mengatasnamakan agama. Dalam Islam sendiri, ini sudah dimulai semenjak khalifah Uthman Ibn Khattab r.a. yang dibunuh oleh assassin misterius yang belum diketahui indentitasnya sampai sekarang. Dan lebih tajam lagi semenjak (ontran-ontran politik pada masa) khalifah Ali Ibn Abi Thalib vis a vis gubernur Damascus (sekarang Syiria) Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan. Berujung pada pembantaian keturunan nabi di Karbala. Hanya satu yang tersisa. Ali al-Shagir.

Pasca pembantaian itu, Mu’awiyah mengumpulkan umat Islam untuk melantiknya (bai’at) sebagai khalifah. “Semua yang terjadi di muka bumi adalah takdir Tuhan,” kata Muawiyyah. “Maka. Siapa yang tidak membaiat saya sebagai khalifah, ia telah mengingkari takdir-Nya,” lanjut raja yang menjadikan paham fatalisme (jabariyyah) sebagai mahzab resmi Negara. Politisi agama telah dimulai.

Dan terus berlanjut, bahkan sampai sekarang: Islamic State of Iraq and Syria, yang telah bertransformasi menjadi Islamic State. Juga laku mengkafirkan dan/ atau menjegal segala aktifitas yang, konon, tidak ditemukan cantelan hukumnya baik dari Alquran maupun Sunnah—terutama yang terjadi di tanah air oleh paham cangkokan dari Nejd. Belum bom bunuh diri dan aksi teror lainnya. Mereka ibarat orang yang baru mengupas kulit buah jeruk, belum sampai keisi, tapi sudah menyimpulkan rasanya.

Sangat tepat, pernyataan sang presiden. Maka, kita perlu memahami agama sampai ke substansinya, tak hanya membaca kulitnya.[]

[caption id="attachment_935" align="aligncenter" width="600"]Konferensi Perdamaian Agama (Dari Kirike Kanan) Mrs. Mehrezia Labidi-Maiza (ketua MPR Tunisia), Saya, Mufti Tunisia, dan Moammar Gaddafi.[/caption]

Tunis, 29-09-2014


 

 


EmoticonEmoticon