Tuesday, March 17, 2015

Pengalaman dalam Metro: Digelandang Polisi Tunisia

Pada suatu hari yang dingin, ada pemandangan lain di stasiun metro Bab Saadoun, Tunis, ibu kota Tunisia. Tiga orang asing dari tiga benua yang tak sama dikawal ketat oleh polisi, keluar dari Metro menuju ruang "pengadilan," kantor kepala stasiun.

Merkea adalah pria dari benua Eropa, Asia, dan Afrika. Ketiga pria itu jadi hujaman ratusan pandang mata warga Tunisia, tentunya. Polisi paling depan berlagak seperti aktor yang sedang memerankan penangkapan bandar narkoba kelas kakap dalam film-film Hollywood.

Siapa ketiga pria itu? Si bule adalah warga negara yang pernah dipimpin Napoleon, sedang si cokelat manis pemegang paspor Republik Pencitraan, Ngendonesia, dan yang pria ketiga adalah tetangga jauh negeri ini, Mouritania.

Stop!!! Jangan berimajinasi lebay, Dab. Mereka bukan jaringan terongis ngintelnasional. Justru mereka mahasiswa baik-baik( ce iyeee), yang dalam perjalanan (dari kampus) ke perpustakaan nasional: mengejar deadline tugas kelompok, makalah dan presentasi. Tapi mereka tidak memiliki tiket.

Rasain.

Kapok!

Tunggu dulu pemirsa. Cerita lengkapnya begini.
***

"Tiket-tiket. Tunjukkan tiket atau kartu berlangganan kalian," kata petugas.
Satu per satu tangan merogoh saku, menjulurkan yang mereka punya: tiket atau kartu langganan.
Sial. Pas sampai giliranku, ku rogoh sakuku, dompet tidak ada. Gebleg, rupanya tadi pagi saya lupa membawanya. Terburu-buru. Sial murokkab: setiap hari selalu ada di dalam kantong, tak pernah ada kontrol, giliran kelupaan, eh, laddalah, kok ya apes nasibku.

Sedangkan si bule memang tidak punya.

Hanya si hitam yang memenuhi kewajiban sebagai penumpang yang baik dan taat. Ia pantas untuk mendapatkan sertifikat penghargaan penumpang teladan. :-P
"Mana tiketmu," hardik petugas padaku.
"Sebentar saya cari. Saya berlangganan tiket paket mahasiswa selama satu tahun. Mungkin terselip di dalam kertas, dalam tasku. Sabar, pakbro," jawabku tanpa menoleh muka brengos itu.
Aku sibuk mencari-cari. Tak kunjung ku dapatkan yang kubutuhkan. Sial!
"Sudah berikan paspormu. Jangan buang waktu kami. Masih banyak yang harus kami periksa."
Kupret. Enak saja minta paspor. 600 millims tak seimbang dengan nyawa bagi setiap warga asing yang sedang menghirup udara tanah tetangga: paspor.
"Tidak. Kalau mau ini ambil iqamah (izin tinggal; KTP) saya. Lagian saya punya kartu langganan. Saya tidak melanggar. Ini iqamah, besok pagi saya ambil dengan membawa kartu langganan saya."
"Pokoknya paspor. Banyak bacot. Kamu punya kartu, tapi sekarang tertangkap basah tanpa tiket atau kartu. Itu dua hal yang berbeda. Singkatnya hari ini kamu melanggar. Harus bayar denda. Berikan paspor buat jaminan," hardik petugas kaya kirik. Mendelik.
Paspor atau bayar denda. Si bule mengeluarkan nominal setengah dinar. Saya bikin yang lebih mendramatisir lagu, separoh dari si bule.
"Lihat!!! Uang kami hanya segini. Bagaimana bisa menyerahkan nominal yang kau minta."
"Dan, KTP ini juga kan identitas saya yang sudah diakui negaramu. Membuatnya juga harus ada paspor dan berkas-berkas lain. Sederajat dengan Paspor."
"Sudah sini berikan," katanya. "Hai, bawa mereka bertiga ke kantor kepala," kata si bewok lagi pada polisi di depannya.
Si bule yang sudah pasrah karena ternyata ia tidak beli tiket dan tidak pula punya kartu langganan. Sedangkan si penumpang teladan memang tidak punya urusan. Namun, sebagai bentuk loyalitas, ia ikut pula bersama kami.
"Bener kamu tidak punya uang?" Kata polisi sambil menuju ruang kepala, mengajak "berdamai".
"Tenang," kata si hitam. "Saya sudah terbiasa menghadapi yang begini," lanjutnya ketika melihat saya hendak menyerah: menjulurkan nominal yang diminta.
***

Kepala stasiun sedang sibuk dengan kertas. Ia tersenyum ramah. Dia sudah tahu duduk-perkara tanpa perlu penjelasan petugas yang menggelandang kami: Ada apalagi orang dibawa ke kantor dia, jika bukan karena penumpang yang tidak berkarcis atau kartu langganan.
"Selamat datang di negeri kami," sambutnya. "Dari mana?"
"Indonesia," sambutku singkat. Sudah pasrah untuk tawar menawar.
"Oh..... Selamat datang. Negara muslim. Negara yang baik."
Sebelum polisi yang membawa kami membuka mulut. "Ada apa ini?" Lanjutnya sekadar pertanyaan penghargaan bagi petugas yang sudah melaksanakan kewajiban dengan baik. Tapi ia tak butuh jawaban.
"Berikan kartu dia. Dia tamu kita."
Begitu pula milik si bule.
Kami bertiga pun keluar. Kukedipkan mata tanda perpisahan pada si om yang mengawal kami.

Rupanya virus peraturan ditegakkan tak berlaku bagi orang asing pun berlaku di sini. Saya kira hanya ada di endounesia.

Kata orang bijak, belajarlah dari pengalaman. Maka, saban pagi, kartu keanggotaan metro jadi barang pertama yang ku cek. Baru yang lain. Pelajatan moral nomor 212 yang ku pegang agat tak lagi jadi tontonan. Malu, Dab, bila peristiwa tanggal 3/3 terulang kembali.


EmoticonEmoticon