Friday, May 8, 2015

Buta

Ceritakan padaku tentang ironi,” kata teman-teman, suatu sore, di komunitas Kafé Literasi.

Maka, saya pun bercerita tentang satu hal yang paling ironi.

Saya akan bercerita hal paling ironi. Cerita lama yang terus berulang: menyandingkan Tuhan dengan kekejaman: pemenggalan dan pencabutan nyawa,” jawabku.


Mereka melotot. Aku meminum cairan cokelat, kopi-susu, dan menelan beberapa biji kuaci.

”Bagaimana ceritanya?” salah seorang kawan tak sabar, merobek suasana tenggelam dalam diam.

”Begini ceritanya,” kataku tak langsung melanjutkan. Kunyalakan sebatang rokok, mendorong asap maut ke dalam paru-paru. Aku termasuk segelintir dari milyaran manusia goblok yang setiap detik memanggil-manggil Izrail agar segera melemparku ke dasar neraka. Merokok!!!

Kumulai ceirtaku:

Di dalam kereta saat menuju kampus, aku duduk berhadapan wajah dengan bunga-bunga musim yang sedang mekar dan, di sampingnya, seekor kupu-kupu liar. Rambut keduanya terurai, menjuntai ke bawah, diterpa angin dari lobang jendela. Dari leher sampai mata kaki, tubuh mereka terlilit kain ketat. Seakan kedua gadis itu sedang berlomba menonjolkan bagian-bagian yang—tanpa ditonjolkan pun sudah—menonjol.

Senyum meloncat dari dua bibir manis, menyela pembicaraan yang tak kusangka-sangka: ISIS!

Bukti apalagi yang masih kau ingkari,” kata gadis pertama. ”Justru Islam bisa maju gemilang, pernah jadi kiblat peradaban dan teknologi di bawah bendera ke-khalifahan Islam. Bukan demokrasi,” kata mawar.

Yah, perjuangan mengembalikan persatuan ummat Islam dalam satu kekhalifahan memerlukan pengorbanan dan komitmen,” melati menimpali.

Untuk itu, kita perlu siasat seperti Mu’awiyah. Kita perlu ketegasan seperti al-Hajjaj Ibn Yusuf, sang panglima, yang selalu bertindak cepat dan tegas, mutlak diperlukan. Semua itu, demi mewujudkan tujuan bersama: persatuan umat Islam. Mengembalikan kejayaan yang sudah lama hilang. Khalifah Mu’awiyah, bagi saya, sang pelopor dalam tradisi politik Islam yang menyatukan semua bangsa dalam satu sistem pemerintahan. Tak hanya Arab,” si pria menyala-nyala.

”Terus?” Teman-teman Kafe Literasi bertanya.

Saya muntab mendengarnya. Gadis-gadis negeri ini, ternyata seperti barang elektronik produk cinta: casing okey ’daleman’ memble. Lihat saja, dua dua bunga itu: pakian seksi ala gadis eropa tapi isi kepala jahiliyah,” jawabku.

Kuteteskan sepercik cairan cokelat kehitaman kembali ke dalam tenggorokan, juga memberikan kesempatan asap-asap maut menari-nari girang mengundang kematian, lalu kuhempaskan dari mulut, mengotori kesehatan paru-paru dan anggota-anggota vital.

***

Siapa sangka, gadis-gadis modis terbuai rayuan manis ISIS, menumbangkan nyawa demi berdirinya negara-agama. Oh. My dog!!!

Bila yang berbicara seperti itu wanita-wanita bercadar, mungkin itu tidak aneh. Toh, negara ini termasuk salah satu pemasok wanita-wanita pejuang ranjang di Syiria. Ini ironi lain.

”Kenapa mereka menjadikan Mu’awiyah sebagai cantolan?” tanyaku. Aku tak perlu jawaban mereka. ”Mungkin, ini hipotesaku saja, keduanya sama-sama penyanding tuhan dengan kekejaman demi kekuasaan,” lanjutku.

Saya teringat pidato gila sang khalifah,

”Semua yang terjadi di muka bumi adalah ketetapan ilahi. Takdir! Adalah wajib mengimaninya. Mengingkarinya berbuah bara neraka, mengingkari takdir berarti kafir.”

Terus terang, saya begidik ketika membaca pidato kenegaraan pertama mantan gubernur Syam orde Uthman Ibn Affan itu, setelah pelantikkannya sebagai khalifah pertama bani Umayyah, di suatu hari yang tercatat tinta hitam sejarah dengan nama Yaum al-Jam'i.

Pidato yang jadi legitimasi, semenjak dinasti monarkhi itu berkuasa, manusia-manusia bengah menyerobot tugas Izrail, untuk melanggengkan kekuasaan. Apalagi setelah dinasti-monarkhi ini secara resmi menetapkan faham fatalisme sebagai mazhab resmi negara. Lengkap sudah menyandingkan agama dengan kekejaman demi kekuasaan. Satu fase abu-abu yang tak ada sejak nabi sampai habisnya era Khulafa al-Rashidin.

Makin ngeri bila kita mendengar syair berdarah--jauh lebih becek warna merah dari tangan maut Arya Dwi Pangga-- Al-Hajjaj bin Yusuf,



Aku seorang petinggi dan pencongkel gigi

….

Sejak berkuasa, dinasti yang semenjak jadi gubernur terkenal suka berpoya-poya ini mulai menghunus pedang di depan oposisinya, faksi Madinah. Karena telat untuk mem-bai’at, selaih peristiwa Karbala yang menyimpan duka sepanjang masa: pemenggalan cucu nabi di padang Karbala. Bagi mereka, menenteng pedang di jalan Tuhan.

Peristiwa demi pembunuhan terjadi di masa kekuasaan orde Bani Umawiyyah ini.

Bahkan, Yazid Ibn Mu'awiyah, putra mahkota yang memimpin eksekusi cucu nabi di Karbala, saat peristiwa paregreg di Madinah, berkata tanpa merasa berdosa, ”Bila kakekku, Abu Sufyan, melihat kesuksesanku ini, saya yakin ia akan bangga,” ujarnya setelah membereskan pembangkang Madinah.

Saya su’udzon sebenarnya tujuan Mu’awiyah membangun negara dengan menggusur Ali karramaLlahu wajhah terlebih dahulu itu melanjutkan ambisi keluarga atau murni menancapkan panji agama? Atau dengan kata lain: menancapkan taring keluarga dengan berteduh di bawah bayang-bayang bendera agama?

Entahlah! Saya tak lagi berkutat dengan lembaran sejarah. Dan, lagi pula, hati manusia hanya pemiliknya dan Pencipta yang tahu.

Terus apa kaitannya dengan obrolan dua gadis itu,” tanya teman-teman serentak.

Sesuatu yang dimulai dengan darah, akan diikuti warna yang sama. Dan, miris, ditumbangkan dengan cara yang tak berbeda,” pungkasku sambil menghabiskan sisa kopi.

Teman yang lain menyela, mengisi ruang kosong sementara menikmati cairan cokelat,

Tapi banyak yang menganggap mendirikan negara-agama, daulah islamiyyah, dengan mem-bai’at khalifah, adalah bagian dari perintah Tuhan.

”Maka,” lanjutku setelah meletakkan kembali kopi tampat semula, ”Kemana dan dimana pun, kita harus tertap ber-Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itu pesan Bung Karno yang menemukan relevansinya. Dua gadis itu, representasi dari generasi buta sejarah. Ahistoris! Bila tahu sejarah kelam Mua’awiyah, mereka, saya yakin, akan malu melegitimasi kesahihan Islamic State in Iraq and Sham dengan kekuasaan dinasti ini. Saya malas untuk turut latah menarik Ayat-ayat suci dan hadith nabi di sini, tidak perlu. Toh sudah jelas ISIS tak ada cantolannya dari segi mana pun.”

Diam.

Ngopi.

”Bagaiman kelanjutannya?”

”Selesai,” jawabku.



** Terinspirasi dari obrolan penumpang di dalam Metro dari Tunis ke Manouba di suatu senja.


EmoticonEmoticon