Sunday, May 3, 2015

Ora et Labora

"Kang Afandie, tirakatku dulu adalah membaca buku. Riyadlah (mengolah kebatinan) saya dulu tidak dengan puasa Senen dan Kamis," tutur kiai sepuh pada salah satu santrinya; Setelah si santri menjalankan amanatnya sebagai "badal" mengisi pengajian di desa sebelah, menggantikan sang kiai yang berhalangan hadir.
Kiai sepuh itu adalah K.H. Fattah Hasyim Idris, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Beliau memang sering menitahkan santri asal Indramayu tersebut untuk menggantikannya mengisi wejangan di atas podium, bila sedang berhalangan, selain menjadi imam di masjid dan mengaji 'belandongan' (sistem pengajian klasik di Pesantren: kiai/ guru membaca, murid mencatat. Semacam kuliah dosen di kelas).
Nasihat itu menarik kita resapi.
Tradisi tirakat di dunia pesantren sudah mengakar rumput. Rasanya tidak "afdlal" jadi santri bila tidak mengolah batin dengan menjauhi segala aroma dan warna duniawi, makan sederhana, puasa, bahkan ngerowot (biasanya makan 'nasi' jagung, atau tiwul, dan jenis makanan tak bergizi yanh lain).
Konon, diantara faidahnya, "padange" hati. Sehingga, siapa yang melakukan tirakat bisa lebih mudah menyerap setiap inti pelajaran, ilmu jadi barokah, dll. Minimalnya, qana'ah. Ah, saya kok jadi penceramah dunia eksotis gini.
Masih menurut katanya, masih banyak lagi keistimewaan yang bisa diperoleh secara ajaib dengan lakon batin seperti itu. Tak tahulah. Saya bukan penganut aliran "keistimewaan". Yang riil-riil saja banyak yang belum tergapai.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi kiai Fattah. Bagi beliau tirakat santri adalah belajar serius, lakon tirakat sebatas pengimbang. Santri haurs gigih berusaha sambil diimbangi ketulusan berdoa.
"Banyak yang puasa tapi jadi lemes. Tidak 'berdaya' untuk membaca. Maka, lebih baik giat belajar, dari pada tirakat tapi belajar tidak semangat. Lain halnya, bila tirakat tidak mempengaruhi kesungguhan belajar," lanjut penerus tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Bahrul Ulum tersebut, setelah panutannya, mBah Wahab Chasbullah, dipanggil Yang Maha Pencipta, pada santri kepercayaannya.
Dalam teori pragmatik, bila kita mau berbicara sedikit teoritis, utamanya kajian tindak tutur (speech act), ucapan mBah Fattah tergolong dalam jenis tutur illokusi (illocution act; al-'amal al-qauli), yaitu ada maksud yang ingin ia sampaikan pada mukhatab/mitra tuturnya (dalam hal ini adalah Afanfie muda), dibalik tuturannya tersebut. Dan itu bisa bermacam-macam: larangan, nasihat, perintah, dll. Semua bisa terkuak dengan menempatkan tuturan tersebut pada konteksnya: siapa penuturnya, kepada siapa ia bertutur, kapan dan dalam situasi apa mBah Fattah bertutur.
Kita kembali ke cerita di atas agar mengetahui maksud tuturan mBah Fattah.
Santri yang saya sebutkan di atas adalah abah saya sendiri. Sehingga saya mengetahui lebih jauh kelanjutan dan tujuan "dawuh" kiai yang tidak pernah saya lewatkan dalam setiap tawasul saya, sesuai pesan abah.
Abah sering menggetok tularkan nasihat kiainya dengan hadith riwayat bi al-makna, "Maka, jika puasa justru membuatmu tak bergairah membaca, belajar, ya mending kamu makan yang cukup. Tetapi, tetap bisa fokus belajar," nasihat abah padaku.
Tapi, lanjut ayah paling hebat di dunia (boleh dong ngebanggain ortu sendiri), semua harus diimbangi dengan doa. Terutama doa orang tua. "Tirakat tidak usah macam-macam, dua itu saja," lanjut guru nomor satuku. Nasihat yang tak akan pernah kulupakan.
Bahkan, abah pun sering meriwayatkan hadith lain, keluar sebentar dari fokus pembicaraan ini, riwayat yang sanadnya diperoleh saat mondok di Tebuireng, "Saat sedang menemukan kemusykilan, baik fikih maupun yang lain, mBah Cholil Bangkalan sering mengajak ibu nyai "jalan-jalan" keliling Bangkalan (entah tepatnya tempat apa yang beliau kunjungi, abah tak menyebutkan), naik dokar."
Abah melanjutkan, konon, saat "jalan-jalan" itulah Shaikun-nahdliyyin, Mbah Cholil, (ini istilah bidah ala saya, sebagai term vis a vis menyaingi shaikh al-islam yang disematkan ke Ibnu Taymiyah. Dilarang protes!!! Ini hak prerogatif saya untuk mengangkat kapolri, eh salah: istilah baru) menemukan solusi masalah yang tak ditemukan di ruang baca. Jika sudah menemukan pemecahan, maka beliau segera memerintahkan supir pribadinya untuk memutar balik ferrari kembali ke "ndalem" (mobil ferrrari kan logonya kuda smile emoticon ).
Jadi, wahai saudara-saudara sependeritaan dan sekemeringisan, tirakat yang paling ampuh itu makan buku, bukan nasi jagung dan tiwul. Mbah Hasyim, Mbah Fatah, mBah Wahab, mBah Manab, meskipun melalui lakon panjang kurang makan, tetapi jangan lupa mereka tidak pernah lelah mengeja aksara. Itu kontribusi terbesar bagi kesuksesan mereka? Bahkan, syahdan, mBah Manab --pendiri pesantren Lirboyo-- setiap habis mencuci pakaiannya, "tiyang agung" itu sambil menunggu kering dengan "ngelalar" (mengulang-ulang hafalan) bait-bait al-Fiyah Ibn Malik. Tidak tanggung2 di dalam kolam. Sebab, tidak punya ganti. Dahsyatullah sekali.
Shahih atau dhaifnya riwayat tersebut, waLlahu maha tahu.
Tanya juga--mumpung masih hidup-- pada mBah Chomsky (pendiri linguistik aliran transformatik-generatif), mBah Fauconnier (penemu toeri ruang mental [espaces mentaux] dalam domain kajian semantik kognitif, dan mBah Jackondoff (salah seorang tokoh semantik kognitif Amrik, murid mBah Chomsky), apakah mereka pernah ngerowot maka tiwul dan/ atau nasi jagung?
Pop corn, mungkin pernah. Mereka kutu buku dalam perbagai rumpun keilmuan.
Maka, sekali lagi, tirakat santri hanya dua: mempeng lan ndonga, buku dan sajadah. Atau istilah keren temen ngopiku: ora et labora. Keduanya ada di ruang sunyi. Dan, sesekali jalan-jalan. Ini "tarekat" mBah Cholil.
Eh, tapi jangan bilang siapa-siapa ya, saya belum bisa meniru tarekat "tongkat pusaka Islam nusantara" itu seutuhnya. Beliau jalan-jalan didampingi ibu nyai Cholil, maka malaikat pun turun membawa "wahyu" sebagai jalan keluar atas kemusykilan. Persis seperti ketika membimbing nabi saat sedang galau menghadapi umatnya yang ngeyel.
Jadi, sodara-sodara, sehabis ujian, kita akan bertemu jibril di bukit mana? Atau di pantai mana? Jalan-jalan.
Tapi sayang, kayaknya Jibril tidak mau berpihak pada para jomblo. Setiap saya jalan-jalan-- dengan sesama "bantongan"-- ku berharap sesekali ia turun membawa bisikan langit padaku, yang datang malah tukang foto.
Rupanya malaikat tak berpihak pada jomblo-jomblo. Jalan keluar jomblo ternyata masih di dalam sekat ruang baca, dan yang mau pintas berteman dengan google.
Jika ini benar, wah wah, malaikat tidak adil. Tapi saya protes pada siapa, lah wong saya tidak punya PIN BBM atau WA, dan akun medsosnya Jibril atau malaikat yang lain.
Entahlah bila saya sudah meminang penerjemah pribadiku untuk buku-buku Syaikh Chomsky, Kiai Fauconnier, Gus Jackondoff, Cak Austin, dan Kang Searle. Juga buku-buku dengan bahasa alam gaib yang lain, tentunya. Mungkin, sekali lagi kemungkinan, Jibril mau jadi teman baikku.
إلى حضرة شيخنا خليل، والشيخ هاشم، والشيخ عبد الوهاب، والشيخ عبد الفتاح، والشيخ عبد الكريم والشيخ عبد مرزوقي والشيخ محروس علي وجميع أجدادي وجداتي لهم الفاتحة
A. Muntaha Afandie
Tunis, 02 Maret 2015
Maktabah watoniyah, ngopi siang, 12:58


EmoticonEmoticon