Friday, March 10, 2017

Nahdliyin Kafah; Ber-NU dengan Komposisi yang Pas

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan menarik—meminjam istilah dari dapur tetangga—bagaimana ber-NU secara kafah di tengah dinamika kelompok dan sosial dewasa ini? Apakah dengan cara mempertahankan keklasikkan (diksi ini sengaja dipilih untuk menjauhi kata “kolot” yang disematkan pada warga nahdliyin) atau dengan serta-merta tampil sebagai “kaum modern” untuk membuktikan bahwa stigma itu salah? Tentunya, kedua hal tersebut bukanlah pilihan yang bijak.
Lantas bagaimana solusinya?
Menurut penulis jawabannya sederhana, yaitu “ber-NU dengan komposisi yang pas”. Hanya dengan cara itulah kita bisa menjadi NU yang baik di tengah dinamika sosial dan kelompok saat ini. Perlu diingat bahwa tujuan didirikannya organisasi NU adalah untuk merespons wahabisasi. Sebab, pada waktu itu, para tamu Allah yang hendak melaksanakan ibadah haji tidak diperkenankan kecuali mereka mau mengikuti tata cara yang ditentukan oleh penguasa baru.
Jika sebelum Indonesia merdeka, NU berada di garda depan dalam membebaskan negara dari cengkeraman penjajah, maka pasca kemerdekaan Indonesia, NU tetap berada di barisan terdepan menjaga keutuhan bangsa dan kesatuan NKRI. Tidak hanya itu, organisasi yang dipelopori oleh Mbah Wahab dan dideklarasikan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari ini juga selalu membentengi negara dari rongrongan PKI. Hal ini membuktikan bahwa NU tetap konsisten berada pada khitahnya sebagai al-jam’iyyah al-diniyyah al-ijtima’iyyah al-wasatiyyah (asosiasi sosial keagamaan kaum muslim suni yang moderat).
Dengan kata lain, penyederhanaan terhadap NU di atas mengacu pada sikap NU yang sejak awal–dalam dinamika agama (NU vis a vis wahabi) serta dinamika berbangsa dan bernegara (NU vis a vis penjajah dan PKI)—memosisikan diri sebagai jam’iyyah yang moderat dan tidak terombang-ambing arus, baik kanan maupun kiri. Adapun dasar argumen penulis tersebut adalah adagium klise “al-muhafadzah ’ala al-qadim al-salih wa al-akhdz bi al-jadid al-aslah”. Pesan tersirat dari kutipan ini ialah “seyogianya kaum nahdliyin menjaga tradisi untuk menyongsong modernitas”.
***
Sudah selayaknya kader NU yang rata-rata alumni pesantren dan tersebar di berbagai belahan dunia memperkaya diri dengan khazanah pemikiran modern. Jangan pandang bulu. Nggak mbois bila kita enggan membaca buku A atau B hanya karena karya-karya itu hasil pemikiran para orientalis. Sebagai insan modern, membaca semua literatur tanpa memandang “merk” adalah keniscayaan. Khazanah keilmuan yang dipelajari selama mondok di pesantren merupakan modal yang kuat untuk menjadi pembaca yang kritis. Bahkan, kader NU juga harus bisa menyimbiosiskan kedua khazanah pemikiran, klasik-pesantren dan modern sehingga melahirkan pemikiran khas intelektual NU. Bukankah Islam Nusantara juga hasil racikan ”resep” seperti ini? Bedanya, Islam Nusantara merupakan anak kandung dari perkawinan (baca: simbiosis mutualisme) antara budaya lokal dan substansi Islam.
Itulah pentingnya mempertemukan dua khazanah pemikiran yang berbeda dan masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda pula. Sebab, kita tidak bisa mempertahankan “keklasikkan” terus-menerus dan anti terhadap “kemodernan.” Sebaliknya, kita juga tidak bisa menjadi modern secara membabi buta tanpa berpijak pada tradisi.
Jika kita hanya memilih yang pertama, maka kita adalah orang jumud yang tak mau keluar dari tempurung. Sedangkan apabila kita memilih yang kedua namun melupakan yang pertama, maka kita hanya menciptakan kemodernan yang rapuh. Tidak perlu berpanjang kalam kiranya karena poin terakhir sudah dijelaskan dalam tesis yang ditawarkan oleh Ibn Khaldun, “Tanpa berpijak pada tradisi, kita tidak bisa menyambut modernisasi. Generasi yang tercerabut dari akar rumput, tak lebih dari bunga dalam vas; mudah layu dan tak akan berkembang subur.”
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ber-NU secara kafah di tengah pelbagai dinamika adalah dengan cara menjadi penganut Islam Nusantara yang inklusif, yaitu terbuka terhadap berbagai wacana, baik klasik maupun modern bahkan yang ter-up to date sekalipun. Dengan kata lain, sebagai kader NU, kita harus mempertahankan “tradisi” sebagai jati diri sekaligus berani mengadopsi “kebaruan”. Keharusan berpijak pada kedua hal ini akan lebih kuat jika kita tinjau dari segi pendekatan sitaksis. Dalam tata bahasa arab, “wawu athaf” berfungsi menunjukkan makna pertemuan secara absolut (mutlaq al-jam’i). Namun pada kesempatan ini, penulis memakai pisau analisis lain—teori Chomsky—untuk ”membedah” kalimat di atas, yaitu on binding theory. Dalam teori ini, “wawu” berfungsi sebagai pengikat makna. Maka, untuk menjadi nahdliyin yang kafah, seluruh kader NU harus menjaga tradisi dan megadopsi hal-hal yang baru. Melakukan kedua hal tersebut hukumnya adalah fardu ain (tidak boleh hanya dikerjakan salah satu).

Oleh karena itu, orientasi mempertahankan tradisi serta mengadopsi kemodernan dalam segala bidang harus tetap dilestarikan. Modernitas tersebut kita jadikan sebagai penyeimbang tradisi seperti yang dilakukan bangsa Jepang dengan menghapus politik isolasi pasca Restorasi Meiji. Di sinilah kemampuan kita diuji untuk menemukan tolok ukur atas komposisi tradisi dan kemodernan sehingga warga nahdliyin bisa tetap survive di tengah dinamika sosial-keagamaan. Memang hal ini kedengarannya mudah, namun sangat sulit untuk dipraktikkan, bukan?

*) sunber: Tatwirul Afkar, April 2016.


EmoticonEmoticon