Tuesday, June 4, 2019

Filosofi Idulfitri: Piala bagi Para Juara

A. Muntaha Afandie

Hari raya Idulfitri adalah ”piala” yang diberikan oleh Allah kepada umat Islam. Oleh karena itu, kita sering menyebutnya dengan hari kemenangan, yaitu menang menaklukkan hawa nafsu selama bulan suci Ramadan. Jika muslim mampu melalui semua godaan di bulan suci, maka ia kembali pada kesucian (’i>d ‘al-fit}ri). Perluasan makna seperti ini, secara semantik, bukan suatu masalah.

Dalam bahasa Arab kata ”kembali” (’i>d ) adalah bentuk noun dari akar kata’ain-alif-dal (عاد) yang bentuk mud}a>ri’-(present continuous tense)nya ya-’ain-ya-dal (يعيد) bukan ya-’ain-ya-dal (يعود) sebagaimana dituliskan oleh Nurcholis Madjid dalam kumpulan esainnya, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan.

Meskipun sama dalam bentuk fi’il madli-nya tapi perbedaan dalam bentuk mudlari-nya mengakibatkan perbedaan makna dilihat dari sudut pandang filsafat bahasa, khususnya filsafat morfologi bahasa Arab.

Secara etimologi kata ‘i>d berarti mengunjungi, kembali kepada, dan kejadian yang terjadi berulang-ulang. Sedangkan‘al-fit}r memiliki arti permulaan, awal diciptakan, tabiat yang sempurna.

Dari sini, menganeksasikan dua akar kata (arab: tarki>b idla>fiyyi>) memiliki makna muslim yang berpuasa selama tiga puluh hari, ia kembali seperti bayi yang baru lahir, menggapai kesucian jiwa.

***

Tidak diragukan lagi bahwa puasa di Ramadan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Diantaranya penghapusan dosa-dosa yang telah dilakukan.

Dengan catatan, kita berpuasa dengan penuh keimanan kepada Allah dan disyariatkannya puasa, serta mengharapkan pahala dari-Nya. Selain itu, kita juga harus bersungguh-sungguh mengerjakan itu semua dengan mengisi malam-malam Ramadan dengan bertahajjud, terutama pada sepuluh malam yang terakhir.

Ini cara muslim mendapatkan pengampunan atas semua dosa-dosanya yang konsekwensinya ia terbebas dari api neraka.

Nabi bersabda, “Barang siapa berpuasa ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan (rida Allah, Pen.), maka dosa-dosanya yang telah lewat diampuni.” (H.R. Abu> Hurrairah).

Nabi Muhammad SAW beserta istri-istrinya beriktikaf pada sepuluh hari terakhir di masjid. Oleh karena itu, kita sepatutnya meneladani sosok yang jadi panutan kita (‘uswah ‘al-h}asanah) dengan beriktikaf di masjid selama sepuluh malah terakhir Ramadan.

Bukan sebatas mengikuti an sich secara saklek. Tetapi, malam itu adalah babak final bagi kita. Memperebutkan satu poin besar yang menjadi penentu bagi kita sebagai pemenang. Poin itu adalah malam lailatulkadar.

Oleh karena itu, muslim Indonesia lebih populer denan sebutan malam seribu bintang/ bulan. Karena keutamaannya melebihi beribadah selama seribu bulan. Meski penyebutan ini secara semantik masih ada kepincangan. Toh, bahasa adalah produk budaya.

Iktikaf memang sunah tidak hanya selama bulan mulia, tapi sepanjang tahun. Hanya saja berdiam diri di masjid selama bulan suci waktu terbaik, sekali lagi, terutama pada sepuluh malam terakhir.

Saat beriktikaf, seyogianya kita memperbanyak doa ”Allahuma innaka ’afuwwun tuh}ibb ‘al-’afwa fa’fu ’anni>, Ya Allah Engkau maha pemberi ampun, maka ampunilah saya.”

Siapa tahu saat kita beriktikaf bertepatan dengan lailatulkadar karena, meski banyak ”ramalan” ulama tetapi ia tetap jadi, misteri yang tak terpecahkan. Hanya nabi yang tahu. Dalam satu riwayat, Sayyidah ’A>‘ishsh bertanya kepada nabi tentan lailatulkadar.

Nabi menjawab, ”Malam saat aku membaca ”Allahuma innaka ’afuwwun tuh}ibb ‘al-’afwa fa’fu ’anni.” Karena kita sedang berlomba memperebutkan gelar juara berupa gelar hamba yang menemukan kembali kesuciannya dan lailatulkadar adalah teta teki, maka membaca doa itu merupakan keniscayaan selama beriktikaf.

Tentu masih banyak amalan yang harus kita kerjakan baik siang maupun malam selama bulan suci agar kita meraih gelar juara. Dengan kata lain, filosofi idulfitri termanifestasikan dalam kekhusukan dalam beribadah, mengisi dengan salat, doa yang rendah diri, memaca Alquran, takbir, tahlil, memuji Allah, membaca dzikir, dll.

Esensi inilah yang seharunya dijalankan dengan sangat baik dan konsisten (istikamah) semenjak awal bulan Ramadan, dan ditingkatkan pada sepuluh hari terakhir, khususnya di malam hari.

Untuk meraih piala para juara, lawan yang harus dihadapi dan level-level yang harus dilalui cukup jelas, bukan?

Tunis, 28 Ramadan 1439 H
A. Muntaha Afandie


EmoticonEmoticon